Selamat datang, Visitor! [ Daftar | LoginRSS Feed

Ucapan Syukur lewat Stipendium dan Intensi Misa

  • Terdaftar: Mei 3, 2013 4:39 am
  • Kedaluwarsa: 2492 hari, 10 jam
Stipendium misa

Keterangan

HIDUPKATOLIK.com – Di Jakarta, sekali Misa perkawinan umat mengeluarkan uang stipendium sedikitnya satu juta. Sementara di Kalimantan dan Papua, ada umat yang belum mengenal istilah stipendium dan intensi Misa.

Di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), setiap paroki memiliki aturan dan ‘tradisi’ dalam memberikan stipendium dan uang untuk intensi Misa. Seperti di Paroki Blok Q. Bendahara paroki, Joseph Kwendarta Layhadi, mengatakan, umat yang hendak meminta intensi Misa harus mendaftar terlebih dahulu di sekretariat paroki. Umat tersebut menulis intensinya dan memberikan sumbangan sukarela pada tempat yang sudah disediakan.

Di paroki ini, bahkan ada sebuah ‘tradisi’ dalam memberikan stipendium yang sudah berjalan lama. Menurut Johnny, sapaan akrabnya, jika paroki mengundang pastor dari luar, biasanya paroki memberi stipendium sebesar satu juta rupiah. Jika umat mengadakan Misa arwah, maka mereka memberikan stipendium Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu untuk pastor yang memimpin Misa. Sementara, untuk satu kali Misa perkawinan, umat memberikan stipendium sebesar Rp 1 juta.

Pastor Kepala Paroki Blok Q, Johanes Sudrijanta SJ, mengatakan, stipendium merupakan partisipasi umat untuk membantu kebutuhan kehidupan para pastor. “Besaran stipendium sangat bervariasi tergantung kerelaan umat,” ujarnya saat ditemui 20 Maret lalu.

Sementara untuk intensi Misa, menurut Johnny, Paroki Blok Q menerima rata-rata lima intensi saat Misa hari Sabtu dan Minggu. “Dalam satu bulan bisa sampai 20 intensi, termasuk dalam Misa harian,” kisah Johnny. Besarnya sumbangan umat bervariasi. Mulai dari Rp 10.000 sampai Rp 200.000 untuk setiap intensi.

Hampir sama dengan Paroki Blok Q, di Paroki St Bernadet Ciledug, Tangerang. Tak ada aturan yang jelas tentang besaran uang untuk stipendium dan intensi Misa. Selama ini yang berlaku hanya ‘tradisi’ atau kebiasaan yang sudah berlangsung di kalangan umat. Menurut Kepala Paroki Ciledug, Pastor Paulus Dalu Lubur CICM, uang stipendium bukan milik pastor, tapi milik Gereja. Stipendium yang didapat, 50% untuk Gereja setempat, 30% untuk kongregasi, dan 20% digunakan untuk sumbangan bagi mereka yang miskin atau kaum papa.

Sudah tradisi

Lain di Jakarta, lain pula di Bumi Borneo. Ekonom Keuskupan Palangka Raya, Pastor Andreas Adi Tri Kurniawan MSF, menjelaskan, stipendium dan intensi Misa di Keuskupan Palangka Raya, Kalimantan Tengah, telah diatur dalam Vademecum Pastoral Keuskupan itu. Aturan ini dibuat pada 2004 dan direvisi tahun 2012.

Menurut imam kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 22 November 1975 itu, selama ini umat tak pernah mempertanyakan tentang stipendium dan uang untuk intensi Misa. “Mungkin karena umat tak mau bertanya. Atau mungkin karena umat menganggap hal itu sudah menjadi tradisi, bukan sesuatu yang harus dipertanyakan,” ungkap Pastor Andre dalam wawancara lewat surat elektronik.

Besaran stipendium dan intensi Misa, meski sudah ditentukan, namun kerap kali dalam praktik tak bisa sesuai dengan aturan. Besaran stipendium atau intensi Misa amat tergantung dengan latar belakang ekonomi umat yang memberi, atau maksud serta tujuan Misa diadakan. Misalnya, intensi Misa dalam rangka syukur: pernikahan, panen, kenaikan jabatan, ulang tahun, dan lain-lain, tentu berbeda dengan intensi Misa arwah. “Bahkan ada pastor yang tak mau menerima intensi Misa, jika Misa arwah,” cerita Pastor Andre.

Besaran jumlah stipendium dan intensi Misa juga tergantung dengan kelompok atau komunitas penyelenggara Misa. Besarnya stipendium antara kelompok pengusaha tentu berbeda dengan komunitas misdinar atau pelajar. Beberapa pastor di Keuskupan Palangka Raya kadang juga tak mau menerima atau mengembalikan stipendium dan uang intensi Misa jika memimpin Misa untuk kelompok tertentu, seperti misdinar, orang muda Katolik, dan pelajar.

Pastor Andre menyebutkan, besar kecilnya stipendium juga dipengaruhi oleh “penafsiran” biaya hidup sehari seorang imam. Masing-masing daerah memiliki standar biaya hidup sehari seorang pastor yang berbeda-beda. Pada umumnya pengelolaan stipendium dan uang intensi Misa dilaporkan ke keuskupan bersamaan dengan laporan keuangan bulanan paroki.

Sementara sekitar enam jam perjalanan darat dari Palangka Raya, tepatnya di Paroki Rungan Manuhing, stipendium dan intensi Misa baru mulai diperkenalkan kepada umat. Selama ini, umat tak mengenal istilah stipendium dan intensi Misa. Kepala paroki ini, Pastor Bonaventura bersyukur, lantaran mulai ada stipendium dan intensi Misa. Selama satu tahun, 2012, stipendium di paroki itu terkumpul Rp 750 ribu. Angka setahun itu setara dengan stipendium sekali Misa arwah di Jakarta.

Belum kenal

Lain ladang, lain belalang. Lain di Jakarta dan Kalimantan, lain pula di Papua. Di Paroki Kristus Raja Siriwini, Nabire, masih banyak umat yang belum mengenal stipendium dan intensi Misa. “Di sini, kita mendoakan orang sakit bukan karena uang, tetapi karena kita mau berdoa. Tidak ada uang, doa tetap berjalan,” kata Kepala Paroki Kristus Raja yang juga Vikaris Jenderal Keuskupan Timika, Pastor Nato Gobay.

Meski demikian, ada pula umat yang sudah mulai mengenal istilah stipendium dan intensi Misa. Menurut Pastor Nato, jika ada rezeki lebih, umat dipersilakan memberi uang stipendium atau intensi Misa secara sukarela. “Terserah, mau Rp 5.000 atau Rp 10.000. Dengan begitu, Gereja juga sedang mengajarkan sikap sukarela,” urainya saat dihubungi melalui telepon, 21 Maret lalu.

Di Paroki Kristus Raja ini, baik stipendium maupun intensi Misa dikumpulkan di sekretariat paroki. Semua dicatat dengan teliti, mulai dari nama, ujub doa, serta besaran uang yang ada. Semua catatan itu dilaporkan ke keuskupan. “Semua keterangan harus jelas. Rata-rata stipendium dan intensi Misa di paroki ini selama satu bulan sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu,” tandas Pastor Nato.

Semua stipendium dan intensi Misa diberikan kepada keuskupan. Menurut Pastor Nato, seluruh kebutuhan pastor sudah dicukupi oleh keuskupan. “Stipendium dan intensi Misa tak ada yang masuk kantong pribadi pastor,” tegasnya. Pastor Nato juga menambahkan, agar jangan mengukur segala sesuatu dari sisi materi atau uang. “Umat yang meminta ujub doa, menaruh di altar, baik ada atau tidak ada uangnya, seorang imam yang memimpin Misa saat itu, wajib membacakan ujub doa itu,” tegasnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Paroki St Stefanus Sempan, Mimika, Keuskupan Timika, Papua, Pastor Willem Bungan OFM. Persoalannya bukan pada jumlah uangnya, melainkan pada niat dan ujub doa dari umat. “Umat minta didoakan, maka wajib didoakan. Berapa pun yang diberikan umat tersebut, adalah simbol ucapan syukur atau terima kasih kepada Tuhan,” jelasnya saat dihubungi via telepon, Senin lalu.

Sejatinya, stipendium dan intensi Misa adalah bentuk ucapan syukur dan terima kasih umat. Stipendium dan intensi Misa juga merupakan bagian dari persembahan umat, hasil pergumulan suka dan duka umat.

Y. Prayogo, Laporan: A. Benny Sabdo/Aprianita Ganadi

Sumber : http://www.hidupkatolik.com

ID Referensi Iklan: 12951833ed5e8eae

Related Ads


Tinggalkan Balasan